Secangkir
teh hangat menemaniku di detik jam yang sedang berputar. Senja itu memperindah
sore ini. Langit biru menjadi kemerah - merahan dihiasi burung – burung yang
berterbangan. Angin yang berhembus terasa begitu sejuk di kulit. Ya
Rabb…terimakasih untuk nikmatMu di sore ini, Engkau pancarkan keindahan yang
begitu nyata di hadapanku tanpa merasa bosan untuk selalu aku syukuri. Tiba –
tiba terdengar melodi yang begitu syahdu
dari kejauhan, kucoba untuk menikmati alunan melodi tersebut. Di tengah
menikmati alunan melodi, ibu datang seraya bertanya “sedang apa nak?” ”Mendengarkan
melodi bu, coba ibu dengarkan, mengapa melodi itu nyaman dirasakan ya bu?
(memandang wajah ibu yang saat itu matanya terpejam)” ”Alunan itu menenangkan
jiwa, bisa menjadi sebuah renungan bagi dirimu nak! Kamu bayangkan, sudah ada
sapa hangatkah untuk orang – orang yang kau temui hari ini? Sudah bersedekahkah
kamu untuk hari ini?” ”Sejenak aku mengingat hari ini, sambil bertanya dalam
hati, siapa orang yang ku temui hari ini? Ya…
langsung teringat olehku, beberapa jam yang lalu aku bertemu dengan teman kecilku di tengah rindangnya suasana siang itu. Tepat aku duduk di bawah pohon untuk menghirup oksigen yang bersih dengan suasana yang hening, tetapi suasana hening itu dipecahkan oleh suara histerisnya. Dia temanku, tiga tahun aku dan dia tidak bertemu, sapa hangat ada dalam pertemuan itu, bukan hanya sapa hangat, sedekahpun ada didalamnya, menjadikan sekumpulan cerita panjang. Aku memang sedikit kaku saat ingin berbicara, mungkin karena telah lama aku tidak bertemu, tapi di tengah waktu yang terus berputar kekakuan itu hilang dengan sendirinya. Banyak hal yang aku dan dia ceritakan, hmm…pertemuan tadi memang begitu indah.
langsung teringat olehku, beberapa jam yang lalu aku bertemu dengan teman kecilku di tengah rindangnya suasana siang itu. Tepat aku duduk di bawah pohon untuk menghirup oksigen yang bersih dengan suasana yang hening, tetapi suasana hening itu dipecahkan oleh suara histerisnya. Dia temanku, tiga tahun aku dan dia tidak bertemu, sapa hangat ada dalam pertemuan itu, bukan hanya sapa hangat, sedekahpun ada didalamnya, menjadikan sekumpulan cerita panjang. Aku memang sedikit kaku saat ingin berbicara, mungkin karena telah lama aku tidak bertemu, tapi di tengah waktu yang terus berputar kekakuan itu hilang dengan sendirinya. Banyak hal yang aku dan dia ceritakan, hmm…pertemuan tadi memang begitu indah.
Aku
meninggalkan hal yang sedang aku bayangkan, lalu aku menjawab “ Insyaallah
sudah ibu (sambil tersenyum walaupun ibu tidak sedang menatapku), aku berbicara
dalam hati sambil menatap dengan serius wajah ibu, ibu…engkau sesosok makhluk
ciptaan Allah yang begitu indah, bukan hanya alunan melodi itu yang dapat
menenangkan jiwa tapi mendengar perkataanmu saja sudah menjadi sebuah penyejuk
hati ini. Perkataanmu memang singkat tapi makna setiap perkataanmu sangatlah
luas” ”Anakku, tetap pertahankan tegur sapamu untuk orang – orang, tetap
bersedekahlah untuk sesamamu, bukan sedekah harta tetapi tersenyumlah untuk
orang – orang yang kau temui. Jadilah cerminan baik untuk orang yang melihatmu”
“Iya bu (sambil memeluk ibu)” “Butiran bening dari mataku jatuh begitu saja. Ya
Allah…Engkau berikan aku sebuah anugrah yang begitu dasyat keindahannya.
Keindahan yang menemaniku sejak aku dilahirkan. Ya Allah…Aku ingin seperti ibu,
jadikan setiap perkataanku adalah manfaat bagi siapapun yang mendengarnya,
seperti perkataan ibu yang selalu membawa manfaat bagiku”. Tak lama terdengar
suara adzan magrib, ku lepas pelukanku dan aku saling memandang lalu tersenyum.
Ibu berkata, “kita shalat magrib yuk”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar