Assalamualaikum, salam semangat! Selamat datang di Blog saya ya :)

Jumat, 04 Mei 2012

Impian dalam Sebuah Embun

Oleh Fera novana


Didepan jendela kamarku, dingin semakin terasa saat kabut yang mengenai pipiku. Menusuk hingga pori-pori kulitku. Tubuh seakan seperti es yang ada di sebuah lemari pendingin. Mulutku bagai uap sebuah air panas. Pagi ini air baru saja berhenti menyapa bumi. Ingin rasanya aku memejamkan mataku kembali, tetapi “kukuruyukkkkk” senandung kokokan ayam semakin jelas dan bertsahut - sahutan di telingaku. Rasanya tak ingin jika aku tertidur kembali di pulau kapukku yang nyaman ini. Burungpun ikut bernyanyi bersama-sama seperti paduan suara yang sedang tampil di atas podium, di pimpin oleh seorang dirigen dan di sambut oleh penonton yang sangat ramai. Mereka sangat menikmati pagi ini, seakan seperti menyapaku pagi ini.  Dedaunanpun ikut bergoyang bagai tarian yang indah diiringi dengan sentuhan angin sepoi-sepoi seakan mengajakku untuk kembali beraktifitas.
***

Hai” (Sapaku pagi ini pada sebuah embun), seakan ia tersenyum menyambut kedatanganku. Kupejamkan mataku, kurasakan dingin tapi sejuk. Mimik wajahku sangat tampak pagi ini, aku sentuh ia dan aku tersenyum. Seperti biasa aku akan selalu megingat impianku. Impian terindah dalam hidupku. Sejenak aku terbangun dari pejaman mataku karena seseorang lewat di depan rumahku, ia lewat tak lupa menyapaku dengan ramah “selamat pagi”, ia adalah teman SMA ku, ia selalu mengingatkanku untuk selalu memikirkan masa depan agar kelak aku menjadi orang yang sukses. Kupejamkan mataku lagi, kurasakan betapa indahnya dunia ini, aku seperti sedang tertidur di ladang bunga dengan ditemani oleh kupu-kupu yang indah menari mengelilingiku, aku berteriak mengatakan “AKU SUKSES”.

Tok…tok…tok… bangun sayang sudah pagi (panggil ibuku dari luar pintu). Aku terbangun lagi dari pejamanku. Ahh,,, ternyata tadi hanyalah sebuah mimpi, aku sedang bermimpi dalam sebuah mimpi. Aku langsung menjawab panggilan ibu “iya bu, aku bangun”. Ibu sangat rajin membangunkanku setiap pagi, mengingatkanku dalam segala hal. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat. Ohh… ibu adalah sosok inspirasi dalam kehidupanku.
Teringat saat ibu bercerita padaku, dahulu ibu sangat ingin menjadi seseorang guru demi cita-cita itu ibu sangat gigih. Apalagi ibu harus membantu nenek bekerja, berjualan untun mencari uang agar dapat berangkat kesekolah. Terkadang jika tidak ada uang saku, ibu harus menumpang truk atau kendaraan apapun yang bias dinaiki untuk arah kesekolah. Ibupun selalu bangun pagi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Jauh dibandingkan aku, ibu selalu memberi uang lebih padaku, tidak memperbolehkanku untuk mengerjakan pekerjaan rumah jika aku banyak tugas dari sekolahku, agar aku fokus dan mendapatkan hasil yang baik dan kelak aku dapat menjadi seseorang yang sukses.
Ibu dulu pernah mengajar disebuah sekolah. Tidak lama itu, ibu di angkat menjadi pegawai negeri sipil. Ibu sangat bahagia karena cita-citanya tercapai, tapi sayang jaman dahulu ibu tidak dapat mengeluarkan dana yang diinginkan, akhirnya ibu gagal menjadi seorang PNS. Ya, dana selalu saja menjadi penghambat. Sampai sekarangpun masalah setiap orang adalah dana. Hah… uang bukanlah segalanya tetapi segala-galanya butuh uang. Kecewa yang mendalam dalam hati ibuku. Ibu kurang beruntung waktu itu. Jadi teringat lagu Melly goeslaw,

Reef:
jika aku menjadi seperti yang lain hidup bercahaya 
mungkin saja aku kehilangan rasa syukur, tak tersenyum dalam damai
coba kau jadi aku, sanggupkah bernafas tanpa udara
namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini bila Tuhan yang mau
jika aku menjadi berubah melawan garis yang tertulis
bukannya Tuhan tidak mendengar doa kita tapi Ia tahu yang terbaik

 Tak kuasa diriku mengingat cerita ibu, mataku selalu berkaca-kaca, dalam hatiku berkata “ya Allah, jadikanlah hambamu ini orang yang beruntung. Itu adalah doaku yang tak pernah lupa kusebut disetiap detik jam yang terhitung. Setiap pagi aku selalu menghampiri sekumpulan embun, ,embayangkan diriku berada di dalam embun itu, sejuk kurasakan kehidupanku yang indah. Dengan kesuksesanku ibu menangis bahagia. Aku selalu berharap impianku dalam sebuah embun akan menjadi keindahan yang sesungguhnya pada waktunya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar