Oleh Fera novana
Didepan jendela kamarku, dingin semakin terasa saat kabut yang
mengenai pipiku. Menusuk hingga pori-pori kulitku. Tubuh seakan seperti
es yang ada di sebuah lemari pendingin. Mulutku bagai uap sebuah air
panas. Pagi ini air baru saja berhenti menyapa bumi. Ingin rasanya aku
memejamkan mataku kembali, tetapi “kukuruyukkkkk” senandung kokokan ayam
semakin jelas dan bertsahut - sahutan di telingaku. Rasanya tak ingin
jika aku tertidur kembali di pulau kapukku yang nyaman ini. Burungpun
ikut bernyanyi bersama-sama seperti paduan suara yang sedang tampil di
atas podium, di pimpin oleh seorang dirigen dan di sambut oleh penonton
yang sangat ramai. Mereka sangat menikmati pagi ini, seakan seperti
menyapaku pagi ini. Dedaunanpun ikut bergoyang bagai tarian yang indah
diiringi dengan sentuhan angin sepoi-sepoi seakan mengajakku untuk
kembali beraktifitas.
***
“
Hai” (Sapaku pagi ini pada sebuah embun), seakan ia tersenyum menyambut kedatanganku. Kupejamkan mataku, kurasakan dingin tapi sejuk. Mimik wajahku sangat tampak pagi ini, aku sentuh ia dan aku tersenyum. Seperti biasa aku akan selalu megingat impianku. Impian terindah dalam hidupku. Sejenak aku terbangun dari pejaman mataku karena seseorang lewat di depan rumahku, ia lewat tak lupa menyapaku dengan ramah “selamat pagi”, ia adalah teman SMA ku, ia selalu mengingatkanku untuk selalu memikirkan masa depan agar kelak aku menjadi orang yang sukses. Kupejamkan mataku lagi, kurasakan betapa indahnya dunia ini, aku seperti sedang tertidur di ladang bunga dengan ditemani oleh kupu-kupu yang indah menari mengelilingiku, aku berteriak mengatakan “AKU SUKSES”.
Hai” (Sapaku pagi ini pada sebuah embun), seakan ia tersenyum menyambut kedatanganku. Kupejamkan mataku, kurasakan dingin tapi sejuk. Mimik wajahku sangat tampak pagi ini, aku sentuh ia dan aku tersenyum. Seperti biasa aku akan selalu megingat impianku. Impian terindah dalam hidupku. Sejenak aku terbangun dari pejaman mataku karena seseorang lewat di depan rumahku, ia lewat tak lupa menyapaku dengan ramah “selamat pagi”, ia adalah teman SMA ku, ia selalu mengingatkanku untuk selalu memikirkan masa depan agar kelak aku menjadi orang yang sukses. Kupejamkan mataku lagi, kurasakan betapa indahnya dunia ini, aku seperti sedang tertidur di ladang bunga dengan ditemani oleh kupu-kupu yang indah menari mengelilingiku, aku berteriak mengatakan “AKU SUKSES”.
Tok…tok…tok… bangun sayang sudah pagi (panggil ibuku dari luar pintu). Aku terbangun lagi dari pejamanku. Ahh,,, ternyata tadi hanyalah sebuah mimpi, aku sedang bermimpi dalam sebuah mimpi. Aku langsung menjawab panggilan ibu “iya bu, aku bangun”. Ibu sangat rajin membangunkanku setiap pagi, mengingatkanku dalam segala hal. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat. Ohh… ibu adalah sosok inspirasi dalam kehidupanku.
Teringat saat ibu bercerita padaku,
dahulu ibu sangat ingin menjadi seseorang guru demi cita-cita itu ibu
sangat gigih. Apalagi ibu harus membantu nenek bekerja, berjualan untun
mencari uang agar dapat berangkat kesekolah. Terkadang jika tidak ada
uang saku, ibu harus menumpang truk atau kendaraan apapun yang bias
dinaiki untuk arah kesekolah. Ibupun selalu bangun pagi untuk
menyelesaikan pekerjaan rumah. Jauh dibandingkan aku, ibu selalu memberi
uang lebih padaku, tidak memperbolehkanku untuk mengerjakan pekerjaan
rumah jika aku banyak tugas dari sekolahku, agar aku fokus dan
mendapatkan hasil yang baik dan kelak aku dapat menjadi seseorang yang
sukses.
Ibu dulu pernah mengajar disebuah sekolah. Tidak lama itu,
ibu di angkat menjadi pegawai negeri sipil. Ibu sangat bahagia karena
cita-citanya tercapai, tapi sayang jaman dahulu ibu tidak dapat
mengeluarkan dana yang diinginkan, akhirnya ibu gagal menjadi seorang
PNS. Ya, dana selalu saja menjadi penghambat. Sampai sekarangpun masalah
setiap orang adalah dana. Hah… uang bukanlah segalanya tetapi
segala-galanya butuh uang. Kecewa yang mendalam dalam hati ibuku. Ibu
kurang beruntung waktu itu. Jadi teringat lagu Melly goeslaw,
Reef:
jika aku menjadi seperti yang lain hidup bercahaya
mungkin saja aku kehilangan rasa syukur, tak tersenyum dalam damai
coba kau jadi aku, sanggupkah bernafas tanpa udara
namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini bila Tuhan yang mau
jika aku menjadi berubah melawan garis yang tertulis
bukannya Tuhan tidak mendengar doa kita tapi Ia tahu yang terbaik
Tak
kuasa diriku mengingat cerita ibu, mataku selalu berkaca-kaca, dalam
hatiku berkata “ya Allah, jadikanlah hambamu ini orang yang beruntung.
Itu adalah doaku yang tak pernah lupa kusebut disetiap detik jam yang
terhitung. Setiap pagi aku selalu menghampiri sekumpulan embun,
,embayangkan diriku berada di dalam embun itu, sejuk kurasakan
kehidupanku yang indah. Dengan kesuksesanku ibu menangis bahagia. Aku
selalu berharap impianku dalam sebuah embun akan menjadi keindahan yang
sesungguhnya pada waktunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar